Tata Cara Istighfar Setelah Shalat
Tata Cara Istighfar Setelah Shalat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 24 Rajab 1447 H / 13 Januari 2026 M.
Kajian Tentang Tata Cara Istighfar Setelah Shalat
Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya sebuah hadits dari Tsuban Radhiyallahu ‘Anhu. Tsuban menceritakan kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap kali selesai menunaikan shalat. Beliau bersabda:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا، وَقَالَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila selesai melaksanakan shalatnya, beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan: ‘Ya Allah, Engkaulah sumber keselamatan dan dari-Mu lah keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Zat Yang Memiliki Kebesaran dan Keagungan’.” (HR. Muslim)
Tata Cara Istighfar Setelah Shalat
Mengenai teknis istighfar tersebut, Imam Al-Auzai rahimahullah, yang merupakan salah satu periwayat hadits ini, pernah ditanya tentang bagaimana cara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beristighfar. Beliau menjelaskan bahwa cukup dengan mengucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
“Aku memohon ampun kepada Allah, aku memohon ampun kepada Allah.” (HR. Muslim)
Hadits dari Tsuban Radhiyallahu ‘Anhu ini menjelaskan salah satu sunnah setelah menyelesaikan shalat lima waktu. Begitu salam diucapkan, seorang muslim hendaknya membaca istighfar sebanyak tiga kali dengan redaksi yang singkat sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kesempurnaan dalam Mengikuti Sunnah
Setelah membaca istighfar, dzikir dilanjutkan dengan membaca doa “Allahumma antassalam…”. Penting untuk diperhatikan bahwa bacaan ini sebaiknya tidak ditambah-tambah dengan redaksi lain yang tidak memiliki riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Walaupun terdapat tambahan doa yang secara makna dianggap baik oleh sebagian orang, tetap berpegang teguh pada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah prinsip utama dalam beribadah. Ketepatan dalam mengikuti sunnah tanpa menambah atau mengurangi merupakan bentuk kepatuhan dan kesempurnaan dalam meneladani beliau. Setiap muslim hendaknya mencukupkan diri pada apa yang telah diriwayatkan secara shahih agar ibadah dzikir yang dilakukan sesuai dengan syariat.
Seorang muslim hendaknya mencukupkan diri dengan membaca dzikir yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah salam dari shalat fardhu. Rangkaian dzikir tersebut dimulai dengan membaca istighfar sebanyak tiga kali, kemudian dilanjutkan dengan doa keselamatan:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Aku memohon ampun kepada Allah (3x). Ya Allah, Engkaulah sumber keselamatan dan dari-Mu lah keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Dzat Yang Memiliki Kebesaran dan Keagungan.” (HR. Muslim)
Imam Al-Auzai, meskipun bukan dari kalangan sahabat, menerima riwayat dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa lafadz istighfar yang diucapkan setelah shalat adalah Astagfirullah. Setelah itu, dzikir dilanjutkan dengan membaca:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi Rahimahullah memasukkan hadits-hadits ini dalam pembahasan istighfar untuk menjelaskan bahwa salah satu waktu utama untuk memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sesudah shalat lima waktu.
Perlu diperhatikan bahwa tidak terdapat riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukkan bahwa beliau langsung membaca Al-Fatihah setelah salam. Surah Al-Fatihah telah dibaca sebagai rukun di dalam shalat pada setiap rakaat. Berdzikir sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hal yang terbaik karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau.
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Muslim)
Istighfar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Menjelang Wafat
Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan bahwa sebelum wafat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperbanyak bacaan dzikir:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dzikir ini merupakan bentuk pelaksanaan dari perintah Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an, khususnya setelah datangnya kemenangan dan manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (QS. An-Nasr[110]: 1-2).
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (QS. An-Nasr[110]: 3)
Kisah di balik ayat ini berkaitan dengan momen ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu memanggil Abdullah bin Abbas di tengah para pemuka Quraisy. Meskipun masih muda, Abdullah bin Abbas memiliki kedudukan istimewa karena doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, tafsir Abdullah bin Abbas menjadi rujukan utama bagi para ulama. Ketika Umar bin Khattab bertanya mengenai makna Surah An-Nasr, Abdullah bin Abbas menjelaskan bahwa surah tersebut merupakan isyarat tentang semakin dekatnya ajal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagai bentuk pengamalan terhadap perintah dalam ayat tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperbanyak bacaan dzikir dalam rukuk dan sujudnya:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
“Maha Suci Engkau, ya Allah, Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, ya Allah, ampunilah aku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah hadits qudsi dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي
“Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni dosa yang telah engkau lakukan, dan Aku tidak peduli (seberapa besar dosa itu).” (HR. At-Tirmidzi)
Pesan ini menegaskan bahwa pintu ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa terbuka luas bagi hamba-Nya. Syarat utama untuk mendapatkan ampunan tersebut adalah adanya doa yang dipanjatkan dengan tulus serta harapan yang besar kepada rahmat-Nya. Selama seorang hamba tidak berputus asa dan terus kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya tanpa memandang masa lalu hamba tersebut.
Pintu ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat luas, melampaui besarnya kemaksiatan yang dilakukan manusia. Sekalipun dosa seorang hamba telah menumpuk setinggi langit, ampunan tetap tersedia selama ia mau memohonnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي
“Wahai anak Adam, seandainya dosamu mencapai setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni engkau dan Aku tidak peduli.” (HR. At-Tirmidzi)
Lebih dari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jaminan bagi hamba yang menjaga tauhidnya. Seseorang yang wafat dengan membawa dosa sebanyak seisi bumi, namun ia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, maka Allah akan menyambutnya dengan ampunan yang serupa.
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi)
Penyebutan “Wahai anak Adam” mengingatkan manusia pada asal-usulnya. Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kedua tangan-Nya. Setiap muslim wajib beriman pada hakikat penciptaan ini sebagaimana dijelaskan dalam dalil tanpa mempertanyakan teknisnya. Dari tulang rusuk Nabi Adam, Allah kemudian menciptakan Hawa, hingga akhirnya lahirlah anak cucu Adam yang memenuhi bumi.
Hadits qudsi ini memberikan harapan besar bagi setiap orang yang pernah melakukan penyimpangan. Selama seorang hamba tetap mentauhidkan Allah dan terus menggantungkan harapannya hanya kepada-Nya, maka dosa-dosanya akan diampuni. Ini merupakan perintah bagi setiap insan untuk tidak pernah berputus asa, senantiasa memanjatkan doa, dan menjauhkan diri dari bergantung kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hendaknya dilakukan secara langsung tanpa perantara. Setiap mukmin dianjurkan memperbanyak permohonan kepada-Nya tanpa perlu melalui perantara kemuliaan (jah) atau kehormatan seseorang. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan hamba-Nya untuk langsung meminta kepada-Nya melalui firman-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu’.” (QS. Ghafir[40]: 60)
Perintah ini bersifat mutlak dan wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Tidak ada dalil dalam Al-Qur’an maupun hadits yang memerintahkan penggunaan perantara makhluk dalam berdoa.
Banyak orang merasa dirinya kotor dan penuh dosa sehingga mencari perantara dari kalangan orang shalih. Hal tersebut bukanlah alasan yang tepat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan membersihkan jiwa seorang hamba. Jika seseorang benar-benar ingin bertobat dan membersihkan diri dari dosa, ia harus langsung memohon ampunan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mendengar, Maha Kuasa, dan Maha Pengabul doa hamba-hamba-Nya. Berharap kepada manusia hanya akan mendatangkan kehampaan karena manusia adalah makhluk yang lemah. Sebaliknya, berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla berarti bersandar pada Zat Yang Maha Kaya, Maha Pengampun, dan Maha Pengasih. Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat bergembira ketika melihat hamba-Nya bertaubat dan memohon ampun.
Hak Mutlak Ampunan Allah
Akidah tauhid mengajarkan agar doa dan harapan hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah satu-satunya yang memiliki ampunan atas segala dosa. Seandainya seluruh malaikat, jin, dan manusia berkumpul untuk mengampuni satu hamba, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
“…dan siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?” (QS. Ali Imran[3]: 135)
Ampunan adalah milik Allah, bukan milik malaikat, nabi, maupun wali. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang berhak ditaati dan Dzat yang memiliki ampunan. Prinsip ini harus tertanam kuat agar iman tidak bergantung kepada makhluk, melainkan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat mutlak dalam memutuskan siapa yang akan diampuni atau diazab. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan betapa luas ampunan-Nya bagi hamba yang mau memohon kepada-Nya:
يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي
“Wahai anak Adam, seandainya dosamu mencapai setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni engkau dan Aku tidak peduli.” (HR. At-Tirmidzi)
Betapapun besarnya jumlah dan ukuran dosa yang dilakukan, pintu ampunan akan terbuka lebar melalui istighfar. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak peduli seberapa buruk masa lalu seorang hamba jika ia datang bersimpuh memohon ampunan dengan ketulusan hati. Hal ini menunjukkan bahwa harapan tidak boleh pupus, karena kekuasaan mutlak untuk mengampuni sepenuhnya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perintah untuk senantiasa beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan anjuran yang harus dilakukan terus-menerus. Hal ini dikarenakan hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang memiliki kuasa penuh untuk mengampuni dosa hamba-Nya. Sebesar dan sebanyak apapun dosa yang dilakukan, seorang hamba harus tetap memohon ampunan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi)
Inti dari pesan tersebut adalah kewajiban menjauhi perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama seseorang tetap berada di atas ketauhidan, yakin, berdoa, bergantung, serta bertawakal hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah akan memberikan ampunan-Nya. Keagungan Allah ‘Azza wa Jalla nampak pada keluasan ampunan-Nya yang tidak dimiliki oleh satupun makhluk.
Rasa takut hendaknya hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu pula dalam hal memohon ampunan, seorang hamba harus langsung menyampaikannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali jika kesalahan tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia wajib meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.
Larangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Hamba-hamba Allah tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Para dai, mubaligh, dan ulama berkewajiban memberikan harapan kepada umat. Sifat yang mendorong manusia untuk berputus asa adalah sifat setan. Seorang yang berilmu akan memberikan motivasi, terutama bagi mereka yang sedang dalam keadaan sakit atau lemah, agar tetap memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bagi seorang mukmin, rasa takut (khauf) dan harapan (raja’) diibaratkan sebagai dua sayap seekor burung. Keduanya harus ada secara seimbang. Namun, terdapat kondisi tertentu yang menuntut penekanan pada salah satunya:
- Saat Sehat dan Kuat: Hendaknya rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla lebih diberatkan agar seseorang terjaga dari kemaksiatan.
- Saat Sakit atau Menjelang Ajal: Hendaknya rasa harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih diberatkan agar hamba tersebut wafat dalam keadaan berprasangka baik (husnuzan) dan sangat berharap akan ampunan Allah.
Seorang hamba tidak memiliki tempat bersandar selain berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sangat penting bagi setiap muslim untuk tidak membiarkan orang lain berputus asa dari rahmat Allah, apapun dosa yang telah mereka perbuat. Bahkan terhadap pelaku kesyirikan sekalipun, mereka harus didorong untuk bertobat, kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Maha Pengampun bagi hamba-hamba-Nya.
Pelajaran dari Hadits Qudsi Mengenai Ampunan
Hadits qudsi ini memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, setiap mukmin dianjurkan untuk senantiasa berdoa dan memperbanyak permohonan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang berdoa tidak akan pernah merugi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba yang banyak mengadu dan memohon kepada-Nya. Sebaliknya, Allah ‘Azza wa Jalla murka kepada orang yang enggan berdoa karena hal itu menunjukkan kesombongan dan keangkuhan di hadapan Zat Yang Maha Kuasa.
Kedua, Allah ‘Azza wa Jalla harus menjadi satu-satunya tumpuan harapan. Selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada makhluk yang pantas dijadikan tumpuan karena hanya Dia Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi, dan Maha Pemaaf.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55982-tata-cara-istighfar-setelah-shalat/